banner 728x90

Menegakkan Salat

Agus Sukaca

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ عَزَّ وَجَلَّ: اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا 

Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika salatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari salat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki salat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari salat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45).

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21) إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22) الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23) وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24) لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25) وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26) وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (27) إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32) وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34) أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ (35)

Sungguh, manusia diciptakan mempunyai sifat suka mengeluh (19); Apabila mendapat keburukan berkeluh kesah (20); Apabila mendapat kebaikan menjadi kikir (21); Kecuali mushallin (pengamal salat) (22); dengan ciri: Salatnya daim (menjadi kebiasaan – mudawamah) (23); dalam hartanya ada hak yang dipermaklumkan (24) bagi yang meminta atau tidak (25); membenarkan hari pembalasan (26); takut azab Rabb-nya (27) karena tidak ada yang bisa aman dari azab Rabb-nya (28); menjaga kemaluannya (29) kecuali terhadap istri atau hamba sahayanya, sesungguhnya mereka tidak tercela (30) barangsiapa mencari di luar itu (zina, lgbt), mereka itu melampaui batas (31); memelihara amanat dan janjinya(32); menegakkan kesaksiannya (33); menjaga salatnya (34); Mereka itu di surga dimuliakan (35).  (QS Al-Ma’arij ayat 19 – 35)

  1. Salat adalah amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat. Orang yang nilai salatnya baik, berarti mendapatkan kesuksesan dan keberuntungan. Sebaliknya, yang salatnya rusak, berarti ia gagal dan rugi.[1] Ini menunjukkan bahwa salat memberikan pengaruh pada amal dan perbuatan lainnya yang dilakukan oleh seseorang. Salat mencegah perbuatan keji dan munkar.[2]
  2. Para pengamal salat (al-mushallin) dimuliakan di surga,[3] memiliki ciri-ciri:
    1. Salatnya daim[4]. Artinya, selalu melaksanakan salat fardhu maupun tathawwu’ secara mudawamah, yakni telah menjadi kebiasaan yang selalu dilakukannya secara rutin. (Salat fardhu terbaik dilaksanakan di awal waktu, berjema’ah, di masjid)
    1. Di dalam hartanya ada hak yang telah dipermaklumkan bagi yang meminta atau tidak meminta.[5] Artinya, telah menetapkan bagian hartanya untuk keperluan zakat – infak – sedekah (ZIS), yang dikeluarkan melalui LAZIS atau langsung kepada mustahiq, ditagih atau tidak, diminta atau tidak.
    1. Meyakini kebenaran yaumuddin (hari pembalasan).[6] Artinya meyakini bahwa setiap perbuatan yang dilakukannya di dunia sekecil apapun akan dihisab dan diberikan balasan dengan adil. Data-data perbuatannya di dunia tercatat secara detil dan tidak ada yang terlewat sedikitpun. Keyakinan ini membawa kepada kehati-hatian dalam berbuat dengan senantiasa memperhatikan aturan-aturan Allah
    1. Takut terhadap azab Allah dan tidak pernah merasa aman darinya.[7] Rasa takut terhadap azab Allah ini membawanya berkarakter pengamal saleh, artinya selalu berusaha memastikan perbuatannya termasuk amal saleh, dan tidak akan bersengaja melakukan larangan-larangan Allah.
    1. Memelihara kemaluannya kecuali terhadap pasangan sahnya.[8] Artinya, kenikmatan dari nafsu seksual hanya disalurkan dengan pasangan sahnya (isteri/suami), menjauhi perbuatan zina, homoseksual, atau lesbian
    1. Memelihara amanat dan janjinya.[9] Artinya, terhadap amanat yang diserahkan kepadanya ditunaikan dengan segenap kemampuan terbaiknya, tidak akan berkhianat, dan terhadap janji-janjinya akan ditepatinya.
    1. Teguh atas kesaksiannya.[10] Artinya ia teguh terhadap kesaksiannya yang didasarkan atas fakta, dan tidak akan berbohong dengan merubah kesaksiannya karena faktor ancaman atau grafitikasi.
    1. Menjaga salat-salatnya.[11] Artinya menjaga pelaksanaan salatnya menjadi prioritas amal sesuai waktu-waktunya, dan tidak menggantikannya dengan amalan lain yang tidak lebih penting.
  3. Yang menjadi dasar kesuksesan orang-orang mukmin adalah kekhusyukan salatnya.[12] Makna khusyuk; di dalam salat menjiwai gerakan dan makna bacaannya, di luar salat mengimplementasikannya. Di dalam salat kita menghadap Allah dan menyampaikan:
    1. Pengakuan telah berada dalam kegelapan yang banyak.[13] Maksudnya, banyak mengambil keputusan dan aktifitas yang tidak diterangi oleh petunjuk Allah.
    1. Keyakinan bahwa: Allah maha besar[14], senantiasa mendengar,[15]  maha pengasih dan penyayang,[16] rabb semesta alam,[17] penguasa hari pembalasan,[18] pemilik kehormatan, kebahagiaan dan kebagusan, tidak ada ilah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.[19] Keyakinan inti menjadikan seseorang bertauhid murni, yakni menjadikan Allah sebagai pertimbangan terpenting dalam berpikir dan mengambil keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
    1. Komitmen untuk mengabdi dan memohon pertolongan hanya kepada Allah.[20] Implementasinya dengan menjalani perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan memastikan yang dilakukan diijinkan-Nya.
    1. Permohon:
      1. Petunjuk jalan yang lurus.[21]  Implementasinya dengan mempelajari petunjuk Allah (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan menjadikan keduanya sebagai mindset dan pertimbangan terpenting dalam memutuskan semua urusannya.
      1. Dijauhkan, disucikan, dan dibersihkan dari kesalahan-kesahalan.[22] Implementasinya, hidupnya penuh kehati-hatian dengan berusaha sekuat tenaga agar aktifitasnya tidak melanggar larangan Allah.
      1. Ampunan.[23] Implementasinya dengan mengenali dosa dan kesalahannya serta memperbaiki diri dan berusaha tidak mengulanginya lagi.
      1. Kasih sayang, kecukupan, dan rezeki.[24] Implementasinya dengan mencintai Allah melebihi lainnya, menejemen finansial, membuat dan merawat saluran rezeki.
      1. Keselamatan, rahmat, dan barakah atas Nabi, dan hamba-hamba Allah yang saleh;[25]  Implementasinya dengan menata hidupnya layak diberikan keselamatan, rahmat, dan barakah
      1. Shalawat atas Nabi Muhammad dan Ibrahim beserta keluarganya;[26] Implementasinya dengan banyak bershalawat dan meneladani Nabi
      1. Perlindungan dari siksa jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati, serta dari jahatnya fitnah dajjal;[27] Implementasinya dengan menjauhi larangan-larangan Allah dan menata hidup sesuai petunjuk-Nya
  4. Menegakkan salat adalah mengimplementasikan pengakuan, keyakinan, komitmen, dan permohonan yang disampaikan pada waktu salat pada semua aspek kehidupannya di luar salat.  Ini yang menjamin amalan-amalan lainnya baik.

Wallahu a’lam Samarinda, 27 Oktober 2023


[1] HR Tirmidzi dari Abu Hurairah

[2] QS Al-Ankabut ayat 45

[3] QS Al-Ma’arij ayat 35

[4] QS Al-Ma’arij ayat 23

[5] QS Al-Ma’arij ayat 24 dan 25

[6] QS Al-Ma’arij ayat 26

[7] QS Al-Ma’arij ayat 27 – 28

[8] QS Al-Maarij ayat 29 – 30

[9] QS Al-Ma’arij ayat 32

[10] QS Al-Ma’arij ayat 33

[11] QS Al-Ma’arij ayat 34

[12] QS Al-Mukminun ayat 1 – 2

[13] Doa sesudah tasyahud awal

[14] Takbir setiap intiqal

[15] I’tidal

[16] QS Al-Fatihah ayat 1 dan 3

[17] QS Al-Fatihah ayat 2

[18] QS Al-Fatihah ayat 3

[19] Tasyahud

[20] QS Al-Fatihah ayat 5

[21] QS Al Fatihah ayat 6, duduk antara 2 sujud

[22] Doa iftitah

[23] Doa ruku’, sujud, duduk antara 2 sujud

[24] Doa antara 2 sujud

[25] Doa tasyahud

[26] Shalawat Nabi dalam duduk tasyahud

[27] Doa setelah tasyahud akhir

banner 468x60